Pages

Senin, 20 Oktober 2014

B.Indonesia; kumpulan puisi dan cerpen






Suasana rumahku seperti biasa sepi jika mama papa belum pulang kerja.. Tak seperti biasanya sedari tadi adik ku sangat rewel dia ingin main tapi aku sangat sibuk dengan tugas sekolahku.
“Dik sampai kapan kau akan menangis?” kataku kesal dengan suara bisingnya
“Sampai kau ingin bermain denganku” pintanya
“Tapi aku sibuk dengan tugasku, aku akan menemanimu bermain setelah tugasku selesai” kataku
“Ok, kau harus menepati janji itu Angga”
“Iya aku mengerti Sarah, sudah kau jangan menangis lagi aku tak bisa berkonsentrasi”
30 menit berlalu kini aku telah menyelesaikan tugasku, Sarah pun menghampiriku
“Bagaimana dengan tugasmu, apa sudah selesai” tanya Sarah
“Ya sudah selesai, sekarang kau ingin bermain apa?” tanyaku padanya
“Petak umpet, bagaimana apa kau bersedia?” tanyanya
“Apa!! Apa kau sudah gila ini sudah malam bagaimana kalo ada sesuatu yang terjadi padamu atau padaku” kataku membentaknya
“Ahh pecundang kau Angga, aku yakin tak akan ada yang terjadi dengan kita” jawabnya
“Aku tak ingin main itu lebih baik aku bermain barbie dari pada aku harus main petak umpet di malam hari apa lagi ini malam jum’at” kataku menakutinya
“Apa kau masih percaya tahayul seperti itu Angga ini sudah jaman internet tapi kau masih saja mempercayai hal-hal mistis seperti itu” katanya menyindirku
“Apa kau tak ingat kejadian yang terjadi dengan om ivan dan tante Luna 2 tahun yang lalu” kataku
“Kecelakaan mobil itu? Angga itu kecelakaan mobil akibat kelalaian om Ivan yang sedang mengantuk dan menabrak pembatas jalan” jawab Sarah tak mau kalah
“Iya tapi sebelumnya mereka memasuki rumah yang katanya angker dan mengambil salah satu barang dari rumah tersebut Sarah, apa kau tak berpikir bahwa penghuni rumah tersebut mengikuti mereka?”
“Sudahlah Angga stop membahas itu lagi aku muak dengan kisah seperti itu, aku tau kau itu sebenarnya takut kan” kata Sarah dengan nada sinis
“Aku tak takut tapi aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kita Sarah”
“Angga sudahlah jika kau tak ingin bermain aku juga tak masalah sekarang aku tau seberapa pengecutnya dirimu Angga”
“Stop memanggilku pengecut Sarah aku bukan seorang pengecut, kau harus tau itu” kataku membentaknya
“Buktikanlah kalau memang kau bukan pengecut”
“Apa kita harus main petak umpet?”
“Ya Angga”
“Oke, aku menerima tantanganmu Sarah” kataku sambil menatapnya tajam
“Baiklah aku yang jaga, kau yang sembunyi terserah kau mau bersembunyi dimana kecuali kamar mandi” katanya
“Oke, kau hitung sampai 20” kataku menengaskan
“Baiklah”
Aku memilih bersembunyi di balik kursi ruang tamu, keadaan disana remang-remang karena hanya mendapat cahaya dari lampu depan tak seperti di ruang keluarga yang terang, Sarah mencariku dia tak menyadari aku ada di balik kursi walau dia mondar-mandir di sekitar ruang tamu.
“Angga dimana kau?” tanyanya aku tak menjawab tapi dia berjalan ke arah dapur “Jadi kau di dapur Angga, tunggu aku aku akan menemukanmu.”
“Apa yang Sarah bicarakan jelas-jelas aku dan ragaku ada di balik kursi ini tapi mengapa dia mecariku di dapur bukankah tadi aku tak menjawab” kataku bingung sedangkan bulu kudukku merinding
“Kalian dimana?” tanya mama yang baru membuka pintu aku keluar dari persembunyianku
“Aku disini mah?” kataku
“Apa yang kau lakukan disitu nak?
“Aku dan sarah sedang main petak umpet ma, di mana papa?” tanyaku
“Sedang memasukkan mobil ke dalam garasi” kata mama
“Mama sudah pulang” kata Sarah mengagetkan
“Iya” jawab mama meninggalkan kami berdua
“Angga bukannya kau bersembunyi di dapur?” tanya Sarah
“Tidak sedari tadi aku bersembunyi di balik kursi itu” kataku sambil menujuk kursi tersebut
“Apa yang kau bicarakan Angga apa kau ingin menakutiku, jelas-jelas aku mendengar suaramu di dapur Angga aku bukan anak kecil Angga”
“Sarah aku dari tadi bersembunyi di balik kursi itu, dan aku juga melihatmu mondar-mandir di sini tapi tiba-tiba kau berjalan menuju dapur aku juga heran mengapa kau pergi ke dapur” kataku meyakinkan Sarah
“Apa yang kau bicarakan? Dengan jelas aku mendengar suaramu dari arah dapur” katanya
“Sedang apa kalian, ayo kita makan malam” kata papa mencairkan suasana
Setelah selesai makan aku dan Sarah bergegas menuju kamar msing-masing
“Ingat Angga permainan kita belum berakhir” kata sarah membuatku merinding tapi aku tak menghiraukan ucapanya
Suasana sekolah hari ini cukup ramai aku berjalan menuu ruang kelasku di sana sudah ada Bobi, Maya dan Gissela tampaknya mereka sedang mengobrol tapi entah apa yang mereka bicarakan.
“Hay Angga, mengapa mukamu sangat lesu?” tanya Maya
“Gak papa hanya sedikit lelah” jawabku sambil meletakkan tas ku di meja
“Oh gitu” lanjut Maya
“Apa yang kau mainkan tadi malam Angga” tanya Gissela dengan kemisteriusannya
“Main? Apa yang kau bicarakan?” tanyaku bingung
“Aku tau tadi malam kau bermain sebuah permainan yang membuatmu” kata Gissela
“Membuatku apa?” tanyaku penasaran
“Diikuti sosok makhluk dunia lain, Katakan padaku apa yang kau mainkan semalam” lanjut Gissel
“Aku bermain petak umpet bersama adikku” jawabku
“Angga apa kau sakit berani bermain petak umpet di malam jum’at?” Tukas Bobi
“Itu karena adikku yang terus menerus menangis, dan dia mengatakan aku pengecut bagaimana aku tidak mengiyakan kemauaannya” kataku menjelaskan
“Angga kan sudah pernah ku bilang jangan pernah bermain sesuatu yang aneh pada malam jum’at, dan apa yang terjadi dengan adikmu?” kata Gissel
“Aku mengingat semua itu tapi adikku memaksaku aku juga sudah bilang kalau malam ini malam jum’at tapi dia sangat cuek bahkan aku menceritakan kejadian yang Om Ivan dan Tante Luna alami, tapi dia tetap tak mempercayainya dan ingin bermain” kataku
“Kau diikuti makhluk itu kan?” tanya Gissela
“Mungkin, aku juga dari tadi malam merasakan kehadiran mereka” jawabku
“Kau tau sebenarnya aku ragu bisa menyelesaikan masalah ini” tambah Gissela
“Ayolah bantu aku aku tak ingin seperti ini” kataku
“Oke, nanti malam kami akan menginap di rumahmu, bagaimana?” tanya Gissela
“Oke” jawab Bobi
“Tapi apa kalian yakin Ayahku akan mengizinkannya” kata maya
“Bilang saja kau menginap di rumahku” kata Gissela
“Oke” jawab Maya
“Oke, kalian akan datang jam berapa?” tanyaku
“5” jawab Gissela
“Ya, aku kan menunggu” kataku lagi
“Angga ingat ini jangan bermain sebelum kita datang” tutur Gissela
“Iya” kataku yang diselingi bel masuk
Aku Angga Ramadan seorang anak normal tapi dikaruniai kemampuan khusus aku bisa merasakan kehadiran makhluk gaib di sisiku, aku juga bisa melenyapkan mereka. Gissela adalah seorang anak yang mempunyai kemampuan khusus yang bisa melihat makhluk yang tak dapat dilihat manusia biasa dan dia sangatlah misterius. Bobi seorang anak yang memiliki kemampuan khusus juga dia bisa melihat kejadiaan yang akan terjadi di masa depan. Maya juga memiliki kemampuan khusus tapi dia hanya bisa mendengar suara-suara aneh saja. Dan Sarah adikku akhir-akhir ini dia sangatlah aneh entah apa yang sedang merasukinya aku merasakan itu.
Sore ini kotaku hujan besar sudah jam 5 tapi mereka belum juga datang kemungkinan mereka tak akan datang, Aku menunggu di depan beberapa menit hingga suara klakson mobil membuyarkan lamunanku.
“Angga buka pagarnya” teriak Bobi
“Iya” kataku berjalan ke arah mereka “Masuklah” lanjutku
“Dimana adikmu?” tanya Maya
“Dalam, dia sedang bermain di halaman belakang” kataku
“Oke, kita harus memainkan permainan itu lagi” kata Gissela
“Baiklah” kataku, Bobi dan Maya
“Panggilah adikmu” kata Gissela
“Iya, kalian masuk dulu” pintaku
Aku mencari adikku di halaman belakang
“Sarah” panggilku
“Ya ada apa?” tanyanya
“Apa kau mau melanjutkan permainan kita yang kemarin” tanyaku
“Iya, tapi ada apa dengan dirimu hari ini mengapa kau yang mengajakku?” tanyanya bingung
“Sudahlah kau jangan banyak bertanya, aku juga membawa teman-temanku katanya mereka ingin ikut bermain” kataku
“Baiklah” kata Sarah
“Ayo kita ke depan” ajakku
Di ruang tamu Bobi Gissela dan Maya sedang membicarakan sesuatu
“Sarah ini teman-temanku, yang ini Bobi, Maya dan Gissela” kataku memperkenalkan mereka
“Aku Sarah, sedang berkenalan dengan kalian” kata Sarah
“Sarah tadi kau sedang bermain dengan siapa?” tanya Gissela
“Dengan temanku, dia cantik dan baik” kata Sarah
“Temanmu dari mana dari tadi aku tak melihtnya Sarah” kataku
“Sudahlah Angga jangan kau banyak tanya” kata Gissela
“Ayo kita main, aku yang akan berjaga” kata Sarah
“Baiklah” kata kami berempat
“Sekarang kau hitung sampai 20” kata Bobi
Bermain petak umpet diselingi hujan dan petir menambah suasana seram. Kami semua bersembunyi, aku memilih bersembunyi di belakang lemari. Satu persatu ditemukan Sarah tapi Maya tak kunjung keluar dari tempat persembunyiannya. Kami mencarinya di setiap ruangan tapi tidak kunjung menemukannya.
“Angga, dia bersembunyi di dalam lemari” kata Sarah
“Jangan bercanda Sarah” kataku mengecek lemari
“Dia tak bercanda Maya memang bersembunyi di lemari ini tapi dia dibawa makhluk dunia lain ke alam mereka” kata Bobi
“Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan” tanyaku bingung
“Salah satu dari kita harus menyusulnya” kata Gissela
“Siapa yang akan pergi?” tanyaku
“Biar aku saja Angga, aku yang menyebabkan semua ini terjadi” kata Sarah menyesal
“Tidak, biar aku saja” kata Bobi
“Apa yang kalian lakukan, yang bisa pergi kesana hanya orang yang bisa melenyapkan mereka” kata Gissela
“Aku Gissel, aku siap” kataku
“Tapi Angga ini kesalahanku biarkan aku yang menyelamatkannya” kata Sarah
“Sudahlah Sarah percaya padaku aku akan baik-baik saja di sana, kau tenang saja” kataku menyakinkan
“Ayo kita lakukan ritual itu, Angga kita akan memakai kamarmu” kata Gissel
“Jangan di kamar Angga Gissel, di kamar Sarah saja” kata Bobi
“Apa yang kau lihat Bobi” tanya Gissel
“Maya sedang memberontak, mereka ingin memepersembahkan jiwa Maya untuk ratu mereka” tukas Bobi
“Benar-benar gila, jelas-jelas mereka sudah tiada” kata Sarah
“Sarah aku ingin bertanya padamu, apa kau juga mempunyai kemampuan khusus?” tanya Gissela
“Mungkin, aku juga bisa berinteraksi dengan mereka” kata Sarah
“Baiklah, kemungkinan Angga akan celaka sangat kecil kita telah menemukan tenaga baru” kata Gissela
“Angga berbaringlah di tempat tidur” kata Bobi
“Apa yang akan terjadi?” tanyaku
“Aku tak tau, ingat Angga tujuanmu kesana hanya untuk menyelamatkan Maya dan waktumu hanya 2 jam” kata Gissela
“Pakailah gelang ini, gelang ini akan berubah menjadi hijau jika waktumu habis, ingat kembali sebelum 2 jam itu berakhir” kata Bobi memberikan gelangnya
“Satu lagi Angga, ingat letak lubang itu warna lubang ini putih jangan memasuki lubang lain selain lubang yang berwarna putih” kata Sarah
“Dari mana kau tau sarah?” tanya Gissela
“Aku pernah menonton film seperti itu” jawab Sarah
“Baiklah Angga, hanya jiwamu yang akan pergi kesana, kau harus percaya sepenuhnya pada kami” kata Gissela
Mereka pun memulai melakukan ritual tersebut, Bobi Gissel dan Sarah menggabungkan kekuatan mereka untuk membawa Angga ke tempat dimana Maya berada.
Kini jiwaku telah berada di alam lain, disana dipenuhi pohon yang menjulang tinggi, aku berjalan mencari keberadaan Maya tiba-tiba ada sesuatu yang menabrakku dan “Bruukkk” aku jatuh
“Siapa kau?” tanya seorang Genderuwo
“A… a… aku manusia” jawabku
“Hahahhahahahaha, apa kau mau menyelamatkan teman mu itu? Atau kau juga mau menukar jiwamu” kata Genderuwo sambil tertawa terbahak-bahak
“Katakan di mana temanku?” Aku memaksanya agar memberi tau ku
“Siapa kau, lawan aku dulu” kata Genderuwo
Aku pun melawannya tapi aku tak tau mengndalikan kekuatanku dan aku ambruk untuk kedua kalinya “Brukkk” Genderuwo itu menggendongku pergi ke suatu tempat sepanjang perjalanan aku melihat berbagai macam hantu dari yang kecil sampai yang tua. Aku pun diturunkan di sebuah tempat di sana aku melihat Maya dia diikat entah dengan apa yang aku lihat hanya sinar yang mengikatnya.
“Maya” panggilku
“Angga, sedang apa kau disini?” tanya Maya
“Aku akan menolongmu” jawabku tiba-tiba saja aku di bawa ke salah satu pilar dan aku pun diikat pilar itu tak berjauhan dengan pilar Maya. Kurasa aku dan Maya telah berada 1 jam disini dan gelang pemberian Bobi separuh sudah hijau.
“Maya bagaimana cara melepaskan diri, kita tak punya banyak waktu” kataku
“Aku tak tau Angga, kenapa tak kau tanyakan Gissela tadi dia mengetahui segala sesuatu seperti ini” kata Maya
“Ahh, betapa bodohnya aku mengapa aku tak bertanya sebelum ke sini” batinku
“Angga, kau bisa memlenyapkan para hantu dengan satu cara kau harus berani jangan ragu untuk membunuh mereka, hadapkanlah telapak tanganmu ke arah hantu yang akan kau bunuh sentuh mereka dan seketika mereka akan lenyap Angga” kata suara gaib
Akhirnya ku arahkan telapak tanganku ke arah tali yang mengikatku dan ternyata aku terbebas, hal yang sama ku lakukan pada Maya. Kami pun bisa meloloskan diri tapi saat kami ingin keluar kami dihadang dua genderuwo yang sangat jelek.
“Mau kabur kau?” kata genderuwo satu
“Tak bisa anak muda” kata genderuwo dua
“Angga kau harus berani dan hadapkanlah telapak tanganmu pada mereka” kata suara gaib itu lagi
“Rasakan ini” kataku sambil memegang mereka dan akhirnya mereka lenyap. Aku dan Maya berlari setiap ada hantu yang menghalangi jalanku aku memegang tangan mereka dan lenyap begitu sampai aku sampai di lubang tempatku keluar tadi tapi ada yang aneh mengapa lubangnya ada 2 dan aku kembali ingat perkataan Sarah masukilah luang yang berwarna putih. Aku yang masih menggenggam tangan Maya masuk ke lubang putih tapi ada sesuatu yang menahan Maya ku putuskan untuk keluar dari lubang tersebut dan aku menemukan Ratu para hantu tersebut, dia cukup menawan.
“Kau tak akan bisa pergi” katanya sambil tertawa pada kami
“Siapa bilang” kataku
“Sialan, kau benar-benar ingin mati” katanya sambil mengarahkan cahaya hitam kepadaku tapi dengan sigap ku hadapkan juga cahaya putihku ke arahnya dan menyuruh Maya masuk ke dalam lubang itu
“Maya masuklah dulu aku akan menyelesaikan urusanku dengan wanita tua ini” kataku
“Tapi Angga” katanya
“Sudahlah aku tak apa jangan khawatirkan aku, cepatlah pergi Maya” kataku
Maya pun amsuk kedalam lubang itu dan aku masih bertarung dengan Ratu hantu, ku lihat gelang pemberian Bobi semakin hijau, akhirnya ku keluarkan semua kekuatanku dan akhirnya dia ambruk dan aku berlari menuju lubang itu.
“Mau kemana kau” teriak ratu hantu
“Selamat tinggal” kataku bangga
Aku pun bangun kurasakan aroma parfum Sarah aku pun membuka mata
“Angga kau hebat” kata Sarah
“Dimana Maya?” tanyaku
“Dia telah menuggu di ruang tamu bersama Bobi dan Gissela ayo kita keluar” kata Sarah
Aku dan Sarah berjalan menuju ruang tamu
“Baguslah kalian telah kembali” kata Bobi
“Maya apa kau baik-baik saja?” tanyaku
“Ya. Kenapa?” kata Maya
“Tak apa” kataku
“Sekarang kita telah berkumpul bersama jangan memikirkan hal itu lagi” kata Gissela “Dan kau Sarah jangan pernah bermain petak umpet di malam jum’at dan dengarkan kata Angga” tambah Gissela
“Baiklah aku sangat menyesal” kata Sarah
“Mulai sekarang Sarah kau bisa bergabung bersama kami” kata Bobi
“Ayo kita menonton” ajakku
“Ayo” kata mereka kompa

 

“Da..ri musim duren hingga musim rambutan tak juga aku dapatkan” ujar Egi, sambil memainkan ukulelenya.
“Aggh.. suara lo itu ngeganggu konsen belajar gue tau gak?” ujar Adriyan sambil memegang buku Sejarah yang tebal.
“Idih.. gaya-gayaan pake belajar segala, emang lo lagi belajar apaan sih, dari tadi serius amat?” tanya Egi kepada Adriyan.
“Eh.. kunyuk, lo gak liat apa dari tadi gue megang buku sejarah” ujar Adriyan dengan wajah yang kesal.
“Yaelah Sejarah aja pake dipelajarin, eh.. iyan gue bilangin ke elo ya, yang namanya sejarah itu adalah sebuah masa lalu, dan masa lalu itu biarlah berlalu, gak usah kita inget-inget lagi, jadi ngapain juga sih lo belajar sejarah yang hanya sebuah masa lalu itu?” ujar Egi menjelaskan.
“Bener.. juga ya kata lu” ujar Adriyan sambil manggut-manggut.
“Siapa dulu Egi gitu lho.. udah ah, gue mau nyanyi lagi, da..ri musim duren…”
Dan nyanyian Egi pun terhenti, lantaran tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Woi..” ujar seorang wanita kepada Egi.
“Yaellah Rena, ngagetin aja sih, gak liat apa orang lagi latihan vokal” jawab Egi ketus.
“Ah.. gaya-gayaan banget sih lu, pake latihan vokal segala. Eh.. ngomong-ngomong soal duren, kok gue jadi ngidam duren ya, apa.. lagi duren di pohon deket salon Susi” ujar Rena kepada Egi dan Adriyan.
“Iddih.. udah kayak ibu-ibu hamil aja lu, pake ngidam segala…” jawab Adriyan.
“Ih.. iyan, gue serius juga, tau gak lo pas gue berangkat ngelewatin pohon duren itu, aroma durennya itu wa..ngi banget, nah.. makannya itu gue mendadak ngidam duren, eh.. ngomong-ngomong nanti pas pulang sekolah kita ambil duren dari pohon itu yuk!” ajak Rena kepada Egi dan Adriyan.
“Ogah.. ah.. gue kagak berani kalo ngambil duren dari pohon itu,” ujar Egi.
“Sama.. gue juga kagak berani deh” sambung Adriyan.
“Ih.. lu berdua kenapa sih, kok gak berani? atau jangan-jangan elo berdua gak bisa manjat ya..?” ujar Rena yang meremehkan keberanian Adriyan dan Egi.
“Dih.. bukannya kita gak bisa manjat Ren.. tapi pohon duren deket salon Bu Susi itu udah mulai angker, ya gak Gi?” ujar Adriyan.
“Youman coy” sambung Egi.
“Lho, angker kenapa?” tanya Rena.
“Nih.. ya gue ceritain, seminggu sebelum kepindahan elo di RT kita, salah satu warga di RT kita sempet ada yang ngambil duren di pohon itu, kabar-kabarnya sih.. pas dia udah di atas pohon itu, dia ngedenger suara cewek yang lagi ketawa, dan elo tau apa yang dia liat pas dia nengok ke atas, dia ngeliat cewek pake baju putih sambil ngelempar duren ke arah orang itu, nah.. semenjak kejadian itu deh, warga di RT tempat kita tinggal, udah gak ada yang berani buat ngambil duren di pohon angker itu, bahkan Ketua RT tempat kita tinggal juga gak berani tuh, untuk ngambil duren di pohon itu” ujar Adriyan menjelaskan.
“Nah.. terus nasib orang itu gimana donk?” tanya Rena kembali.
“Ya, untungnya sih.. orang itu masih selamet, cuman tangannya doank yang patah, tapi semenjak kejadian itu, orang itu malah pindah rumah..” sambung Egi menjelaskan.
“Oh.. gitu.. eh, tapi cewek pake baju putih siapa ya?” tanya Rena sambil sedang berfikir.
“Yah.. pake nanya lagi, ya siapa lagi kalo bukan..” ujar Egi sambil menatap Adrian.
“KUNTILANAK..” ujar Egi dan Adrian sambil mengaketkan Rena.
“Aghhhh…” dan Rena pun berteriak karena dikagetkan oleh Adriyan dan Egi.
“Ih, rese banget sih lo berdua” ujar Rena dengan wajah yang kesal.
Adrian dan Egi pun tertawa terbahak-bahak melihat Ekspresi Rena yang kaget, namun tawa mereka pun harus terhenti, lantaran Pak Toro, guru Sejarah mereka sudah masuk.
2 jam berlalu, akhirnya pelajaran Pak Toro pun berganti dengan suara bel istirahat. Seperti bisanya, Adrian, Egi dan Rena pun pergi ke kantin bersama. Namun, saat mereka berada di kantin, Rena masih saja memikirkan sosok wanita yang ada di pohon duren itu.
“Eh guys.. gue itu masih kepikiran tau gak, sama sosok cewek yang ada di pohon duren yang kata lo berdua angker itu” ungkap Rena kepada Egi dan Adriyan.
“Yaelah.. masih penasaran juga lagi nih anak, kan gue udah bilang kalo sosok cewek di pohon angker itu ya kuntilanak, kalo bukan kuntilanak emang siapa lagi coba, ya gak Egi?” ujar Adriyan sambil mengunyah gorengan.
“Yoi bro, lagian nih ya.. gue juga pernah tuh, ngedenger ketawa cewek gitu, pas motor gue lagi mogok di depan pohon angker itu, padahal gak ada cewek sama sekali di tempat itu, dan semenjak gue ngedenger ketawa itu, gue jadi makin yakin banget kalo suara itu adalah suara kuntilanak” ungkap Egi sambil mengunyah permen karet.
“Ehmm.. tapi gue masih gak percaya kalo itu kuntilanak, sekarang lo berdua mikir deh, masa iya sih ada kuntilanak yang bisa ngelempar duren?” ujar Rena yang masih penasaran.
“Iya juga ya, emang gak masuk akal banget sih?” ujar Adriyan.
“Ya kan gak masuk akal banget? nih.. ya, gue punya ide, gimana kalo malem ini, kita ambil duren di pohon itu, dan kita buktiin kalo sebenernya gak ada kuntilanak di pohon itu?” pinta Rena kepada Adriyan dan Egi.
Mendengar Perkataan Rena, Egi dan Adriyan pun hanya bisa terdiam sambil mengunyah makanan yang ada di mulut mereka.
“Ih.. lo berdua kenapa pada diem sih? oh.. iya ya, gue lupa kalo lu berdua kan penakut, mana berani lu berdua malem-malem ke pohon angker itu, ya kan?” ujar Rena yang meremehkan keberanian Egi dan Adriyan.
“Engg.. kita itu bukannya penakut Ren.. tapi lo tau sendiri kan kalo perjaka tinting itu gak boleh keluar malem-malem, ya gak Iyan?” ujar Egi sambil menyenggol sikut Adriyan yang dari tadi asyik mengunyah gorengan.
“Oh.. iya-iya, yoi banget tuh yang dibilangin Egi” sambung Adriyan.
“Yaelah.. gak usah kebanyakan alasan deh lo berdua, gue gak mau tau ya, gue tunggu lo berdua jam 7 malem di pos ronda, pokoknya persahabatan kita putus kalo sampe lo berdua gak dateng” ancam Rena kepada Adriyan dan Egi.
Tepat jam 7 malam Rena sudah berada di pos ronda, namun Adriyan dan Egi pun belum juga menampakkan diri mereka, akhirnya Rena pun mempunyai inisiatif untuk menelpon Adrian, tapi belum sempat Rena menelefon Adriyan, tiba-tiba saja ada seorang bapak-bapak menghampiri Rena.
“Assalamualaikum nak Rena, lho nak Rena ngapain disini sendirian?” sapa bapak-bapak tersebut kepada Rena.
“Eh.. pak RT, waalaikumsalam pak, engg.. saya lagi nunggu Egi sama Adriyan” ujar Rena.
“Oh… gitu, Yaudah saya tinggal pergi gak apa apakan? soalnya saya mau ke salon Bu Susi buat keramasan” ujar Pak Rt kepada Rena.
“Oh.. ya udah gak apa-apa kok pak, kayaknya bentar lagi Egi sama Adriyan juga mau dateng” jawab Rena.
“Ya sudah kalo begitu saya duluan ya” ujar Pak RT sambil menaiki sepeda ontelnya.
“Iya pak..” ujar Rena.
Usai Pak RT pergi, akhirnya Egi dan Adrian datang dan menghampiri Rena
“Aduh.. lo berdua lama banget sih datengnya, liat ni tangan gue bentol-bentol gara-gara digigitin nyamuk,” ujar Rena sambil menunjukan tangannya
“Aah.. sori deh, kan kita nyiapin ini dulu buat penangkal setan” ujar Egi sambil menunjukkan kalung bawang putih yang ada di lehernya.
“Udah jam setengah delapan nih, yuk ah.. kita ke pohon itu” ujar Adriyan sambil menaiki sepeda fixinya.
Akhirnya Adriyan, Egi dan Rena pun pergi dengan sepeda fixi mereka. Sesampainya mereka di pohon itu, mereka sepakat untuk melakukan hompimpa terlebih dahulu agar bisa menentukan siapa yang akan memanjat pohon angker tersebut. Setelah mereka melakukan hompimpa, ternyata Adriyan lah, yang akan memanjat pohon angker tersebut.
“Nah.. Adriyan sekarang cepetan elu panjat itu pohon angker” ujar Egi dengan wajah yang sumringah.
“Iye.. ini juga gue mau manjat” ujar Adriyan sambil mulai untuk memanjat pohon duren tersebut.
Akhirnya Adriyan pun memberanikan diri untuk memanjat pohon tersebut, namun saat Adriyan sudah sampai di atas pohon tersebut, Adriyan malah justru berteriak.
“AGHGHHHGHH…” teriak Adriyan.
GUBRAK dan Adrian pun terjatuh dari pohon
“Waduh.. iyan lo kenape? Lo gigit kuntilanak ya?” tanya Egi dengan wajah yang panik.
“Apaan sih lo gi, Iyan lo gak kenapa-kenapa kan?” tanya Rena kepada Adrian.
“I.. iya gue gak kenapa-kenapa kok,” ujar Adrian sambil memegang kepalanya
“Ya.. terus pas diatas lo liat apaan?” tanya Rena penasaran.
“Pas.. di atas gue liat cewek pake baju putih terus rambutnya berantakan gitu, oh ya sama satu lagi, gue inget banget kalo di mukanya itu ada bekas lukanya” ujar Adriyan menjelaskan.
“Tuh.. kan Ren, udah kebukti kan, kalo sosok cewek di pohon ini yah kuntilanak, ya udah yuk.. kita cabut aja, daripada nanti kita digigit ama tuh kuntilanak gara-gara kita udah ngeganggu dia” ujar Egi yang dari tadi masih panik.
“Tunggu dulu deh.. kayaknya gue sebelumnya pernah ketemu deh sama cewek yang ada di pohon ini, tapi dimana ya?” ujar Adriyan sambil mengingat.
“Oh.. iya, gue baru inget” ujar Adriyan lagi.
“Lo inget apaan?” tanya Rena kembali.
“Lo emang bener Ren, ternyata cewek itu emang bukan kuntilanak, gue baru inget kalo cewek itu adalah orang gila yang 2 minggu lalu ngejar-ngejar gue,” ujar Adriyan.
“Tapi lo beneran yakin kalo cewek itu adalah orang gila yang pernah ngejar-ngejar lo?” tanya Rena memastikan.
“Iya Ren.. gue itu yakin banget kalo cewek itu adalah orang gila yang 2 minggu lalu ngejar-ngejar gue, nih ya.. gue inget banget kalo orang gila yang pernah ngejar-ngejar gue itu, juga punya bekas luka yang persis banget sama kayag cewek di atas pohon ini” ujar Adriyan sambil menunjuk ke arah pohon duren tersebut
“Ya udah.. gimana kalo gue sama lo laporin semua masalah ini ke pak RT, kebetulan pak RT lagi ada di salon Bu Susi, jadi kita gak usah jauh-jauh ke rumahnya” ujar Rena.
“Iya.. iya lo bener banget, kita memang harus ngelaporin semuan masalah ini ke pak RT, ya udah yuk” ujar Adriyan sambil beranjak berdiri.
“ya udah yuk” sambung Egi.
“Eh.. yang ngajakin lo untuk ikut siapa? gue kan ngajaknya cuman Adriyan doang” ujar Rena sambil beranjak berdiri juga.
“Yah terus kalo gue gak ikut, gue ngapain dong?” tanya Egi dengan wajah yang bingung.
“Yah… lo tetep disini lah, oh.. ya sekalian juga lo turunin cewek itu ya, kan kasian gi, dia di atas pohon itu mulu” jawab Rena.
“Bener tuh yang dibilangin Rena, lo harus tetep disini, lagian kan tadi gue udah manjat gi, jadi sekarang giliran lo lah…” sambung Adriyan.
“Wah… lo berdua emang parah banget, masa lo tega sih ninggalin gue sendirian disini..” ujar Egi dengan wajah yang hampir mau menangis.
“Tenang gi, cewek itu gak bakal ngegigit kok, kan dia bukan kuntilanak, ya gak yan?” jawab Rena.
“Yoman.. ya udah yuk kita langsung ke salon Bu Susi” sambung Adriyan.
Akhirnya Adriyan dan Rena pun meninggalkan Egi, dan sesampainya mereka di salon Bu Susi, mereka pun langsung menemui pak RT dan menceritakan semuanya kepada pak RT. Dan setelah mendengar penjelasan Rena dan Adriyan, pak RT pun meminta kepada mereka untuk membuktikan semua omongan mereka. Tanpa bicara panjang lebar, Adriyan dan Rena pun langsung mengajak pak RT untuk ikut dengan mereka ke pohon Duren tersebut, agar bisa melihat kejadian yang sebenarnya.
“Aduh.. lo berdua lama banget sih datengnya, lo gak tau apa kalo nurunin cewek gila ini susahnya minta ampun” ujar Egi kesal.
“Yaelah nurunin orang gila aja pake ngompol segala, lo bener-bener payah gi..” ujar Rena kepada Egi.
“Tuh.. kan pak dia bukan kuntilanak, liat aja tuh dari tadi dia melukin Egi mulu” ujar Adriyan.
“Yah.. ya.. nak Adriyan dan nak Rena memang benar, dia memang bukan kuntilanak seperti yang saya kira selama ini, nah.. kalo begitu saya minta maaf atas ketidakpercayaan saya, dan saya juga ucapakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Nak Adriyan dan nak Rena, berkat keberanian kalian berdua akhirnya misteri pohon duren ini terpecahkan juga, dan akhirnya juga duren-duren di pohon ini bisa dinikmati kembali oleh semua warga di RT sini” ungkap Pak RT
“Yah.. sama-sama kok pak” ujar Rena dan Adriyan bersamaan.
“Kok yang diucapin cuman Adriyan sama Rena doang sih, saya juga ngebantuin kali pak, gak ngeliat apa saya sampe ngompol begini cuman gara-gara nurunin kuntilanak jadi-jadian ini doang” ujar Egi dengan kesal.
“Oh.. ya saya lupa, iya.. saya ucapkan terimakasih juga yang sebesar-besarnya kepada nak Egi” ujar pak RT.
“Yah.. udah telat kali pak” ujar Egi ketus.
“Ayang bebb kok marah sieh…” ujar cewek gila tersebut sambil mencium Egi..
“hahahahaha…” Adriyan, Rena, dan Pak RT pun tertawa

 

SOMEDAY A DREAM WILL BECOME TRUE
Ujian akhir sekolah hampir datang. Masa putih abu-abuku pun juga akan segera berakhir. Selesai sudah semuanya. Cerita indah tentang teman putih abu-abuku, tapi tidak untuk diriku. Karena ini adalah awal untukku memulai petualangan hidupku.

Awal memasuki kelas XII.
Seperti biasa semua menjadi terasa berat.meskipun sudah dua kali aku menghadapi ujian seperti ini, tapi tetap saja terasa berat. Mungkin ini adalah puncak dari yang sebelumnya. Aku harus mempelajari semuanya lagi dari awal untuk menghadapi pertempuran yang menguras banyak tenaga juga pikiran. Belum lagi banyaknya pilihan yang menanti setelah ujian. Hahhh, rasanya ingin berhenti, tapi inilah hidup. Tidak akan berarti tanpa sebuah ujian. Perjuangan demi perjuangan mulai aku lakukan, setiap pagi melangkah ke sekolah hingga pulang sekolah di sore hari, hanya rasa lelah juga gelisah yang mendampingiku. Bahkan untuk makan dan tidur pun tak tenang. Perasaan takut akan sebuah kegagalan selalu menghantui diriku. Hanya malam yang sunyi yang bisa menenangkan jiwaku disaat aku menghadap yang maha segalanya. Dan memang benar, kita tak perlu takut jika kita terus mendekat pada-Nya disela-sela kesibukan kita dengan ujian tersebut.

Someday A Dream Will Become True
Disela-sela kesibukanku, aku juga harus memikirkan masa depanku. Tujuanku jika ujian ini berhasil, dan tentunya harus berhasil. Hanya perlu yakin pada diri sendiri dan juga tak lupa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mulai dari instansi pendidikan, pekerjaan datang menghampiri. Saat aku mulai yakin pada satu tujuan, tujuan lain datang. Aku hampir putus asa, atau mungkin sudah menyerah saat ayahku tidak mendukung tujuanku. Aku langsung roboh, hilang semua semangat yang sudah aku kumpulkan selama ini. Tujuanku sebenarnya sederhana, aku hanya ingin bisa kuliah juga bekerja secara bersamaan. Menggapai mimpiku menjadi seorang guru matematika, dan pastinya tanpa membebani orang tua. Setidaknya itulah yang aku inginkan sejak kecil. Tapi orang ayahku terlalu kolot, “Buat apa kuliah,? Cuma menghabiskan uang saja. Mendingan langsung kerja.” Kata ayahku.

Saat itu aku sangat kecewa, tak lagi bersemangat untuk meneruskan semuanya. Aku terombang ambing tanpa tujuan. Bahkan aku hampir saja lupa pada mimpi-mimpiku. Aku tak tahu harus bagaimana, dan saat aku merasa semua hanya tinggal mimpi ibu dan kakakku datang. Mereka memang selalu ada disaat aku membutuhkannya. Disaat semua berusaha untuk menjatuhkanku, maka merekalah yang akan datang untuk mengangkat diriku. Bagi mereka mimpiku adalah sebuah kebahagiaan yang harus diwujudkan. Meskipun dengan susah payah, tapi mereka terus berusaha. Perlahan aku bangkit kembali, aku sadar aku tidak boleh mudah putus asa. Semua itu juga ujian. Sama halnya dengan ujian sekolah yang akan aku lakukan nanti.

Bukan hanya kakak dan ibuku yang berjuang. Aku pun ikut berjuang. Disela-sela waktu sambil belajar aku membantu ibu membuat anyaman dari bambu. Maklum aku bukan anak yang terlahir ditengah-tengah keluarga yang kaya. Terkadang aku merasa sedih saat mengingat semua itu, untuk meneruskan sekolahpun aku harus ikut bekerja membantu orang tua. ‘aku juga ingin seperti temanku yang segalanya hanya tinggal meminta.’ Kata-kata itu yang selalu melintas dipikiranku. Hingga membuatku mudah menyerah. Aku harus bergelut dengan rasa letih, mengantuk hingga tak aneh jika aku sering tertidur saat pelajaran berlangsung. Tapi aku ingat, aku tidak sendiri. Kakak dan ibuku juga ikut berjuang, mereka terus mengangkatku saat aku terjatuh. Saat aku berada dikegelapan merekalah yang menerangiku. Mereka siap mempertaruhkan segalanya untuk diriku, hanya untuk mimpi-mimpiku. Karena mereka yakin aku bisa. Itulah yang membuatku sanggup bertahan sampai di sini.

Detik-detik menjelang ujian.
Aku tak tau kenapa jantung ini berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Pengen rasanya aku berteriak, tapi aku tak mampu. Keringat dingin juga keluar dari badanku. Aku drop out, hampir tak sanggup mengerjakan soal-soal itu. Tapi keluarga juga mimpiku menguatkan aku. Aku terus berdoa sambil mengerjakan soal-soal itu. Berharap tidak ambruk saat mengerjakan soal-soal ini hingga hari terakhir. Tiga hari berlalu. Haahhh, lega rasanya. Eitss, tunggu dulu! Masih ada ketegangan yang sepuluh kali lebih besar dari ini. Hari demi hari aku menunggu. Akhirnya hari H pun tiba. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tetap tak bisa. Hatiku bergemuruh, ‘jantungku mau copot!’ teriakku dalam hati.
“kamu kenapa,? Lebih baik kita ke mushola aja yuk, pasti bias lebih tenang.” Seseorang telah mengulurkan tangannya untuk diriku. Aku tersenyum dan menyambut uluran tangan tersebut. Dan benar, saat aku berdiri di depan pintu hatiku merasa kesejukan. Badai yang menerpa hatiku mulai meredam. Kini hatiku merasa sejuk, seakan embun pagi membasahi hatiku. Aku terus berdoa, aku ingin yang terbaik untukku, keluargaku, sahabatku juga semuanya. Ingin rasanya aku menumpahkan isi hatiku, tapi aku masih belum sanggup. Hanya sedikit yang keluar, sedikit membuat hatiku merasa nyaman.
“Thia…. Muthia….kamu dimana,?!!!” sebuah teriakan membangunkan lamunanku. Aku langsung berdiri dan keluar masjid, meski tidak turun. Tapi aku tetap bisa melihat dengan jelas siapa yang memanggilku. Aku hanya diam saja. Menanti kata-kata keluar dari bibir sahabatku. “kamu LULUS…” mendengar teriakan tersebut sepontan aku langsung terduduk dan bersujud syukur. Aku menangis sebisaku. Sebuah pelukan hangat menyambutku dari belakang, dia adalah sahabatku yang selama ini tak tampak olehku. Kami turun bersama, pelukan demi pelukan menyambut kami. Aku memeluk semua teman putih abu-abuku. Semua sahabat yang belum aku temui. Tapi lebih tepatnya lagi sahabat yang sudah ku lihat namun tidak aku temui hatinya dihatiku. Perasaanku membaur jadi satu bersama sahabatku. Aku bahagia. Sebagian mimpiku terwujud, aku lulus dengan nilai yang memuaskan.

Akhirnya tak berapa lama kemudian aku juga menggapai mimpiku yang sebagian lagi. Aku dapat meneruskan kuliahku dan tentu di universitas impianku juga. Begitu juga dengan semua sahabat putih abu-abuku. Mereka mendapatkan apa yang mereka mimpikan dan mereka perjuangkan. Dan…sekali lagi aku sangat bahagia.

-TAMAT-

  


MENINGGAL DALAM RAHIM
Pernikahan Mella dan Rava telah memasuki tahun ke dua, jika diperhatikan kehidupan mereka dapat dibilang keluarga yang paling harmonis di komplek itu. “Kehidupan masa depan cerah”, begitulah ucapan orang-orang yang melihatnya. Bagaimana tidak, hidup serba kecukupan, serta pekerjaan mapan, rumah bagaikan istana raja, halaman rumah bag taman seribu bunga. Mella, seorang wanita karir, wanita berparas cantik ini bekerja di sebuah perusahaan swasta terbesar di kota pempek, kota yang terkenal dengan jembatan ampera serta makanan khasnya, dia memegang peranan penting dalam perusahaan itu sebagai direktur utama. Suaminya, Rava, seorang pengusaha terkaya di kota itu, Rava mewarisi bakat ayahnya sebagai pembisnis handal. Diusia yang baru memasuki 28 tahun dia sudah menjadi saudagar kaya. Indah...siapa yang tidak menginginkan hidup seperti itu? Semua orang pasti mendambakanya.
“Tak ada yang sempurna kecuali Tuhan”. Mungkin pepatah itu yang pantas untuk pasangan ini. Di usia pernikahan yang ke dua tahun, pasangan ini belum juga mendapat momongan, dambaan setiap pasangan suami istri. Berbagai usaha telah dilakukan, dari pengobatan aternatif sampai ke dokter spesialis telah dilakukannya, tapi semuanya nihil. Terkadang rasa putus asa itu muncul, tapi keluarga besar selalu mendukungnya agar selalu berusaha.
“Sampai kapan kak?” Tanya Mella kepada suaminya.
“Sabar dik, kita berdo’a dan berusaha saja.” Jawab Rava.
“Iya, tapi sampai kapan? Sudah dua tahun kita menikah tapi...” Tanya Mella, matanya mulai berkaca-kaca.

Rava mendekat duduk disampingnya dan menenangkanya.
“Dik. Tak henti-hentinya kita berusaha dan berdo’a tapi amanah itu belum juga datang. Mungkin Allah belum mengizinkan kita untuk menjaga amanah itu, Allah pasti merencanakan yang terbaik buat kita.” Ujar Rava kepada istrinya.
“Iya kak, adek tau. Tapi sudah dua tahun kita berusaha, tapi mana hasilnya? Tidak ada kak...” Mella menangis.
“Dik. Lihatlah orang-orang di sana yang sudah 5 tahun bahkan 10 tahun menikah, baru dikaruniai anak, mereka berusaha dan optimis untuk mendapatkannya, dan mereka bisa? kenapa kita tidak mencontoh mereka, mencontoh keoptimisan mereka.”Ujar Rava kepada Mella.
“Iya kak, ya sudah kak, kita tidur sudah malam.”Ujar Mella kepada suaminya.
“Iya.” Jawab Rava.

Dua bulan berlalu setelah kejadian malam itu, biasanya Mella sebelum pergi ke kantor selalu sarapan, tapi kali ini ada yang beda pada Mella. Dia sangat malas sekali untuk bangun pagi, bahkan rasanya tidak ingin bekerja. Rava mencoba membangunkanya tapi Mella tak bangun-bangun juga. Bingung Rava dibuatnya, tidak biasannya istrinya seperti itu, mungkinkan istrinya sakit? Timbul pertanyaan-pertanyaan di benak Rava.
“Dik bangun, sudah pagi. Apa kamu tidak kerja, nanti kamu telat bagaimana?”Ujar Rava kepada istrinya.
“Uuh...Adik malez mau kerja, lemaz rasanya.” Jawab Mella.
“Kamu sakit?” tanya Rava sambil memegang kening istrinya.
“Engak kok kak, Cuma malas aja.” Jawab Mella enteng.
“Tidak seperti biasanya kamu seperti ini.”Gumah Rava sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kak tidak kerja?” Tanya Mella kepada suaminya.
“Nanti saja.” Ujar Rava sambil berjalan keluar dari kamar.

Rava masih belum mengerti kenapa istrinya seperti itu, biasanya istrinya selalu semangat, tidak pernah menyepelekan sesuatu, selalu tepat waktu. Kenapa hari ini berubah, Rava bertanya-tanya dalam hati...
“Jangan-jangan....” Rava tersentak dan berlari membalikan badan menuju kamarnya kembali.
“Adik...jangan-jangan kamu hamil?” Ujar Rava kepada istrinya.
“Hem... Hamil dari mana kak, sudahlah kak jangan bermimpi.” Ujar istrinya.
“Tidak bisa, pokoknya hari ini kita ke dokter, oke? Sekarang mandilah kita pergi ke dokter pagi ini juga.” Ujar Rava penuh semangat.
“Ah... Malas nanti kayak dulu lagi.” Jawab Mella sambil membenarkan selimutny untuk menutupi tubuhnya.
“Sudah dik, sekarangan bangunlah aku tunggu di depan. Cepat ya.” Ujar Rava.
“Iya...iya...” Membuka selimut dan menuju kamar mandi.

Rava menuju garansi mobil dan memanasi mobil sedangkan Mella menyiapkan diri untuk memenuhi keinginan suaminya. Setelah menyiapkan semuanya, pasangan suami istri itu meninggalkan rumah menuju ke dokter kandungan dimana mereka sering konsultasi.
“Maaf, Tuhan belum memberkati kalian, istri anda cuma kecapekan saja bukan hamil.” Ujar dokter kepada pasangan suami istri itu.
“Maksud dokter, istriku belum hamil?” Tanya Rava.
“Iya, istri anda belum hamil?” Jawab dokter.
“Oh, Terima Kasih dok, kami permisi dulu.” Ujar Rava.
“Iya, Selalu berusaha pak, bu, jangan putus asa kalian masih muda.” Kata dokter sambil bersalaman dengan pasangan suami istri itu.
“Iya pak, Pasti.” Ujar Rava.

Kedua pasangan itu membuka pintu keluar dari ruangan dokter dengan guratan wajah kecewa, kebisuan mengantarkan mereka sampai di dalam mobil, tak sepatah kata yang terucap dari kedua pasangan ini. Rava mulai menghidupkan mesin mobilnya, diperjalanan pulang tak ada canda tawa lagi, kediaman, kesunyian serta kekecewaan menyelimuti hati keduanya. Mella mulai membuka pembicaraan. Terasa tak kuasa dia mengungkapkanya, matanya berkaca-kaca.
“Kak...maafin aku, aku mengecewakanmu lagi .” Ujarnya sambil meneteskan air mata, sementara Rava tetap diam dan terus mengemudi mobilnya.
“Kak...bicaralah, jangan diam seperti ini, aku tau aku yang bermasalah, rahimku....”Mella menangis dan tak kuat meneruskan kata-katanya.
“Sudah dik, jangan menangis, ini cobaan kita.” Jawab Rava singkat tapi penuh makna.
Mella terus menangis di dalam mobil sedangkan Rava hanya diam dan terus mengendari mobilnya. Tidak tau apa yang ada dipikiran Rava, dia diam seribu bahasa. Bahkan terkesan cuek kepada istrinya. Mobil berhenti tepat di depan rumah mereka. Mella turun dari mobil sementara Rava memasukan mobilnya di dalam garasi yang ada di samping istananya itu.

Hari berganti hari, rumah itu terlihat sepi, tak pernah terlihat batang hidung mereka, kemanakan mereka? Biasanya setiap senja mereka duduk bersama sambil menuggu adzan magrib tapi sekarang berbeda, rumah itu selalu tertutup rapat. Rava mulai berubah, dia selalu pulang malam, tak jarang dia pulang dalam kondisi mabuk. Mella mulai mencium perubahan suaminya. Ketika malam, Mella menunggu suaminya pulang, dia ingin mengetahui jam berapa suaminya pulang karena selama ini dia tidak pernah tahu jam berapa suaminya pulang, dia memberikan kepercayaan penuh kepada suaminya. Tapi kali ini, dia ingin menunggu suaminya. Jam berbunyi menunjukan jam 12:00 malam, tapi suaminya belum pulang juga, mencoba dihubunginya tapi tidak diangkat. Semakin cemas Mella menunggunya, dia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Kecemasan Mella terpecahkan oleh deru suara mobil di depan rumahnya. Mella cepat-cepat membuka pintu dan mununggu suaminya di depan pintu.
“Baru pulang kak?” Tanya Mella pada suaminya.
“Iya.”jawabnya.
“ Tumben, kok sampai larut malam.”Tanyanya lagi.
“Aku bekerja dik!” Jawabnya sedikit membentak.
“ Tapi biasanya tidak sampai larut malam begini kan?” Mella menyela.
“Ahk!!! diam kamu, aku seperti ini karena untuk menafkahi kamu, tapi mana? Apa yang sudah kamu berikan sama aku?” Jawabnya
“Tapi kak...”
“Sudah, aku mau tidur, aku capek.” Ujarnya sambil menuju tempat tidur.
Mella semakin curiga, suaminya bersikap kasar terhadapnya bahkan Rava mulai jarang pulang ke rumah. Di telfon tidak diangkat bahkan tidak jarang nomor HPnya tidak diaktifkan. Suatu hari Mella menghubungi ke kantornya tetapi kata sekertarisnya Rava tidak ada di kantor. Mella menghubungi teman kerjanya tapi jawabannya sama saja, mereka tidak tahu keberadaan Rava, semakin cemas Mella memikirkan suaminya. Kecemasaan itu tidak dia perlihatkan kepada suaminya, jika suaminya datang, Mella seolah-olah tidak tahu semuanya. Mella hanya diam, diam penuh tanda tanya, apa yang telah terhadi pada suaminya.
Keesokan harinya, Mella memutuskan untuk pergi ke kantor sendiri, dia beralasan ada kerjaan yang harus diselesaikan, oleh sebab itu dia tidak pergi kerja bersama suaminya. Rava berangkat ke kantornya sendirian tanpa ada rasa curiga. Tidak lama dari Rava pergi, Mella pun mengikuti dari belakang, tetapi Mella tidak pergi ke kantornya, tapi mengikuti suaminya. Mella tidak menggunakan mobil pribadinya, dia diantarkan oleh teman kerjanya, temanya itu mengetahui apa yang terjadi pada suami Mella.

Tepat di depan sebuah hotel berbintang, mobil suami Mella berhenti. Rava tidak sadar kalau dirinya dibuntuti oleh istrinya. Tanpa ragu-ragu Rava masuk ke dalam hotel tersebut. Semakin berdebar-debar hati Mella, kecurigaan Mella semakin kuat. Lima belas menit dari Rava masuk hotel itu, Mella melangkahkan kakinya ke dalam hotel tersebut. Tepat di kamar hotel 0528, Mella berdiri di depan pintu kamar itu. Semakin berdebar-debar jantung Mella. Mella menarik nafas untuk menenangkan dirinya. Pintu ia buka, tidak terkunci. Betapa terkejutnya Mella saat melihat suaminya, tidak pernah ia duga. Bendunagn air mata terkoyakan, air mata tumpah membasahi pipinya. Membisu tanpa kata, tubuhnya bag tak bertulang, luluh lunglai. Mella melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain.
“Kak...?” Hanya kata itu yang terucap dari bibirnya.

Betapa terkejutnya Rava, mendengar suara istrinya dan berdiri di depan pintu dengan linangan air mata.
“Ngapain kamu di sini?” Tanyanya kepada istrinya.
“Kamu yang ngapain di sini?” Mella balik bertanya.
“A..a..aku..” Rava gugup.
“Siapa wanita itu?” Tanya Mella.
“Ahkk...ini semua salahmu, ini salahmu yang membuat aku begini, Rahimmu mati, cintaku mati dalam rahimmu...”ujarnya.
“Seperti inikah cintamu, sekecil inikah cintamu?” Sela Mella.
“Heh, jangan salahkan aku, kalau aku berselingkuh sama dia, dia lebih sempurna dari pada kamu, dia juga pasti bisa memberikakku anak, tidak seperti kamu!” Suara Rava meninggi.
“Kamu yakin, dia bisa memberimu anak?” Bergetar suara Mella.
“Iya, pasti, dia pasti bisa memberiku anak, tidak seperti kamu, wanita kering, cintaku telah usai! Mat...., mati oleh rahim, mati dalam rahimmu.”Ujar Rava dengan menangis gemetaran.
“Tidak! Tidak mungkin, tidak...!
Mella pingsan...
***



KETIKA SAHABAT MENJADI CINTA

Kebahagian sebuah pertem
anan kini
telah berubah menjadi keindahan sebuah kisah cinta. .
yang dulunya bertengkar sekarang menjadi damai akan hadirnya Cinta
dan pernah ada yang menyangka bahwa
Sebuah pertemanan bisa menjadi sebuah percintaan. . .

Dan mungkin semua orang tau,
Bahwa cinta itu berawal dari sebuah pertemanan. .

keindahan sebuah persahabatan lebih indah jika
di tambah dengan sebuah kisah Cinta antara dua makhluk
yang saling mengkasihi. . .
SAHABAT ITU.....

Selalu hadir dalam kehidupan kita
Baik itu senang atau susah
Tak perlu berkata ia pasti mendengar
Semua cerita akan tercampur dengan bumbu kisahnya
Menegur kala kita salah mengambil langkah
Menyokong kala kita mengangkat satu keputusan
Bertanggung jawab walau tak ikut menyebabkan
Meniupkan hawa kedamaian kala kita terbalut dalam emosi

Dan…
Selalu seperti itu hingga takdir memisahkan

TENTANG AKU & KAMU, KAWAN

Kawan,
Taukah kamu berapa lama masa yang kita lewati bersama??
Aku tak ingin tau,
Karna kamu selamanya bagiku.....
Bersamamu,
Tangisku kan terurai menjadi tawa
Dukaku kan terpecah menjadi bahagia
Dan airmata yang terlanjur jatuh....
Takan berubah menjadi nestapa
Denganmu,kepenatanku tergilas sirna

Terkadang disatu waktu,
Prasangka pernah menjauhkanmu dariku
Tapi sungguh kawan,
Amarah takkan bisa bertahan lama dikalbuku
Kusadari aku terikat jauh kedalam hatimu

Ingatkah kawan,
Kita pernah duduk bersama
Melukis langit dengan impian
Tentang aku , kamu dan kehidupan......

BINTANG UNTUK SAHABAT

Malam nan suci dan sepi,
menarikku untuk keluar dari rumah.
Kupandangi Langit malam...
Ternyata bertaburkan Bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Andaikan ku seorang Bidadari,
Kan kubawa diriku dan sahabatku untuk menari diatas sana.

Kuraih sebuah Bintang terindah,
dan kupersembahkan untuk sahabatku yang selalu menemaniku.


MENANGISLAH SOBAT..

Tak bisa ungkap dengan kata apapun
Ini memang sangat membosankan
Ini begitu melelahkan
Bahkan, ini sangat menjengkelkan
Tubuh seakan beku dalam bongkahan es
Membeku tidak tahu kapan akan mencair

Yaa… itu benar sobat
Itu semua seperti sorot lampu panggung tanpa penonton
Menerangi tubuh di dalam kegelapan
Terdiam bisu tanpa senyum dan air mata
Ini sangat menyedihkan..
Namun.. ingatlah sobat..
Kau tidak sendiri
Kau tidak berdiri sendiri di kegelapan itu

Teteskanlah air matamu jika hatimu merasa terisak
Berteriaklah sepuasmu jika hatimu memanas
Karena itu lebih baik ku lihat
Dari pada kau terdiam kaku di bawah sorot lampu itu
Bagai seorang tokoh tanpa dialog.

BAHASA LANGIT

Gumpalan awan di langit biru
Bercerita kisah kita
Saat deras hujan bagai air mata
Dan cerah mentari jadi wajah kita

Warna pelangi di langit biru
Hanya jadi saksi bisu
Saksi kisah perjalananku denganmu
Saat perbedaan jadi keindahan

Langit pun berbahasa
Dan bersenandung ria
Lantunkan lagu rindu antara engkau dan aku
Oh Sahabat…

Langit pun berbahasa
Tanda bersuka cita
Sambut esok dimana kita kan slalu bersama
Selamanya…

Dan dengarlah, dengarlah slalu
Itulah semua tentang kita,
cerita bahasa langit…

5 komentar:

Unknown mengatakan...

cerpen & puiSine gOOOd....?!!

Unknown mengatakan...

akih ye,,,
bagus,,,

Unknown mengatakan...

baguess

Unknown mengatakan...

yeyeye

Unknown mengatakan...

top,,
best,,

Posting Komentar

 
Desing Downloaded From Free Website Templates | Free CSS Templates | Free PSD Graphics